نظرية مراتب ظهور كلام الحق
Teori Tingkatan Manifestasi Kalam al-Ḥaqq
الأصل الأول
المتكلم الحقيقي واحد لا شريك له، وهو الله سبحانه وتعالى، وكل ما في القرآن كلامه حقيقةً، وإنما تختلف مراتبه بحسب كيفية ظهوره، لا بحسب اختلاف المتكلم.
"Mutakallim yang hakiki hanya satu, tiada sekutu bagi-Nya, yaitu Allah Subḥānahu wa Ta'ālā. Seluruh isi Al-Qur'an adalah kalam-Nya secara hakiki. Perbedaan yang tampak hanyalah pada cara manifestasi kalam tersebut, bukan pada banyaknya mutakallim."
المرتبة الأولى
كلام الحق على سبيل الحكاية
Allah menampakkan kalam-Nya dengan hikayah (mengisahkan) ucapan makhluk.
Hakikatnya tetap Allah yang berbicara.
Makhluk hanyalah المحكي عنه.
Contoh
Nabi Adam 'Alaihissalam
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا
Allah mengisahkan doa Adam.
Nabi Musa 'Alaihissalam
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي
Allah mengisahkan doa Musa.
Nabi Ibrahim 'Alahissalam
رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى
Allah mengisahkan permohonan Ibrahim.
Iblis
بِمَا أَغْوَيْتَنِي
Allah mengisahkan ucapan Iblis.
Fir'aun
أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
Allah mengisahkan kesombongan Fir'aun.
Perbedaan iman dan kufur tidak mengubah martabat ini.
Semuanya tetap
كلام الحق على سبيل الحكاية
Dan melalui martabat inilah para wali Allah menemukan sumber mukasyafah (tersingkapnya rahasia makhluk) melalui hikayah dari Allah.
المرتبة الثانية
كلام الحق على سبيل الأمر
Allah menampakkan kalam-Nya dengan memerintahkan seorang rasul atau hamba untuk mengucapkannya.
Lisan makhluk hanyalah mazhar al-amr, sedangkan Mutakallim tetap Allah.
Contoh
Nabi Muhammad ﷺ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Allah memerintahkan Nabi mengucapkannya.
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ
Lafaz
أنا
secara lahir kembali kepada Nabi,
tetapi hakikat kalam tetap Allah.
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
Juga termasuk martabat ini.
Dan di martabat inilah para wali Allah menyadari adanya muraqabah (pengawasan Allah) dan muhadatsah (percakapannya batin dengan Allah)
المرتبة الثالثة
كلام الحق على سبيل الإشارة
Pada martabat ini perhatian tidak lagi tertuju kepada siapa yang menjadi tokoh dalam ayat, melainkan kepada Mutakallim Hakiki yang sedang bertajalli melalui kalam-Nya.
Martabat ini terbagi menjadi empat tingkatan.
أولا
بالإشارة بالغياب
الفرق التام
Allah dipandang melalui dhamir ghaib.
Masih tampak
عبد
dan
رب.
Contoh:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Allah dibicarakan.
Belum terjadi dialog.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ
Masih memakai
هو.
Ini adalah maqam
الفرق التام
Di mana Tuhan masih lebih sering disebut sebagai Dia (Orang Ketiga) sehingga seakan-akan tidak ada karena keberadaan makhluk masih sangat amat erat, sehingga yang disaksikan hanyalah keghaibannya bukan kehadirannya. Inilah maqamnya para murid yang masih tebal hijabnya, sehingga ego sangat amat luar biasa. Bagaimana awan yang sangat amat gelap menutupinya dari cahaya matahari dan dirinya menyadari hal ini. Sehingga orang di maqam ini masih seakan-akan melihat, belum benar-benar menyaksikan tajalli tapi sudah mulai menyaksikan hijab berupa cahaya.
ثانيا
بالإشارة بالخطاب
الفرق في الجمع
Di sini kalam berubah menjadi khithāb langsung.
Hamba tidak lagi membicarakan Allah,
tetapi berbicara kepada Allah.
Masih ada dua sisi:
عبد
dan
رب.
Tetapi keduanya telah masuk ke dalam hubungan dialogis.
Contoh pertama
Al-Fatihah
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Di sini Allah tidak lagi dipanggil dengan
هو
melainkan
أنت.
Hal ini dikuatkan oleh hadis qudsi:
قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين...
Setiap ayat dijawab langsung oleh Allah.
Contoh kedua
Dialog Nabi Musa dengan Allah.
Allah berfirman:
وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ
Musa menjawab:
هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا...
Allah berfirman lagi:
أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ
Musa melaksanakan perintah itu.
Kemudian Allah berfirman:
خُذْهَا وَلَا تَخَفْ
Di sini terjadi khithāb ilāhī secara langsung.
Bukan lagi sekadar kisah,
melainkan percakapan antara Rabb dan Nabi.
Inilah contoh paling jelas dari
الخطاب
yang melahirkan
الفرق في الجمع
Masih ada dua pihak,
namun kedekatan telah mencapai derajat munājāt, inilah maqamnya para salik.
ثالثا
بالإشارة بالإفراد
الجمع التام
Di sini perhatian salik telah berpindah dari lafaz menuju Mutakallim.
Yang disaksikan hanyalah al-Ḥaqq sebagai sumber seluruh kalam.
Contoh Al-Qur'an:
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ رَمَى
Secara lahir Nabi melempar.
Secara hakikat af'al berada di bawah qudrah Allah.
Contoh pengalaman tasawuf:
Ucapan sebagian ahli fana:
أنا الحق
Dalam teori ini,
bukan dipahami sebagai perpindahan dzat makhluk menjadi Allah,
melainkan sebagai isyārah syuhūdiyyah bahwa aniyyah telah sirna dari kesadaran, sehingga yang disaksikan hanyalah al-Ḥaqq. Eksistensi makhluk tidak dinafikan, tetapi tidak lagi menjadi pusat penyaksian. Inilah maqamnya para muhibbin yang sedang fana' dalam hakikat.
رابعا
بالإشارة بالتعظيم
إثبات الخلق من الحق
Pada martabat ini,
eksistensi makhluk tetap diakui,
namun seluruh keberadaannya dipahami sebagai
وجود نسبي قائم بالله
bukan berdiri sendiri.
Contoh:
نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ
Jamak di sini bukan menunjukkan banyak dzat,
tetapi ta'zhim.
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
Makhluk tetap beramal,
namun seluruh keberadaannya berdiri dengan ciptaan dan qudrah Allah. Inilah maqamnya para washilun yang telah baqa' dalam ma'rifat sehingga mereka tidak lagi terhijab dari Allah karena makhluk maupun terhijab dari makhluk karena cahaya tajallinya Allah.
Ringkasan Hierarki
كلام الحق
⬇
١. على سبيل الحكاية
- Doa Adam
- Doa Musa
- Ucapan Ibrahim
- Ucapan Iblis
- Ucapan Fir'aun
⬇
٢. على سبيل الأمر
- قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
- قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ
- قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
⬇
٣. على سبيل الإشارة
- بالغياب → الفرق التام
- بالخطاب → الفرق في الجمع (contohnya Al-Fatihah dan dialog Allah–Musa)
- بالإفراد → الجمع التام
- بالتعظيم → إثبات الخلق من الحق
Penutup
Teori ini memiliki potensi sebagai salah satu kerangka tafsir isyārī bercorak falsafi. Secara konsep, teori ini lebih mudah diposisikan sebagai model hermeneutika tasawuf falsafi daripada sebagai redefinisi akidah tentang kalam Allah dan perbuatan makhluk. Ini akan membuatnya lebih kokoh ketika diuji secara ilmiah maupun dikritisi dari perspektif keilmuan lain misalnya filsafat murni atau ilmu kalam yang coraknya di luar kalangan sufi ahlus sunnah wal jama'ah.
Wallahu A'lam Bis Shawab
Rizky Aji Purwantara, S.Hum.
Sekretaris Awwal Syu'biyah Jatman Banyuwangi

Komentar
Posting Komentar